Puisi Hardho Sayoko
Merajut ilusi dengan sulur rindu terpulas dinding harap
aura bulan saat purnama dan mentari pagi musim semi
tak berbingkai karena wajahmu melebihi segala pesona
dalam berbagai tamsil segenap pujian belum pernah ada
mendayu bagai suara kerisik daun bambu di pesawahan
; kuncup mimpi mekar di jantung gadis di luar tidurnya
Coba abadikan kerlingmu pada kedip bintang di langit
biar dalam puncak kegelisihan selalu lahir berlaksa bunga sajak
dari sela anak-anak rambutmu semerbak aroma dahlia
Menyusun lagu tersaput tarian jemari memetik dawai
karena sunyi hanya desau suara dari pepucuk rimbun cemara
tak usah mengubah raut pelangi saat gerimis usai hampir senja
bukankah tak berbatas derai tawa dan lembut bisik saat jatuh cinta
di celah tebing bukit terpetik tiap bebayang sayup alun serenada
; juwita kendarai angin meraup gemerlap angan dalam kembaraan
Kedunggalar, 30 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar