Puisi Hardho Sayoko
Di luar bising ruang tunggu
seekor jatayu baja menukik gagah
berangkat siang merentang sayap di kotamu
usai menelan kejelitaanmu dalam gundah
ponsel tak pernah petakan lagi rekah senyum
kendati noktah harap selalu terbidik galau
setelah lewati hitungan catatan rembulan
melintas sela reranting cemara bebukitan
Angin bersalam hingga pintu toilet
memandu gerak jarum jam tembok
menguliti kegelisahan berkecamuk kelu
seperti gemetar jemari tangan
dalam genggam mesra seorang penyajak
di layar laptop cursor berterjemah
tentang bias warna di lengkung bianglala
Di ruang tunggu jeda detak sepatu
setelah terurai biji rindu dari bingkai
indahnya gerai anak-anak rambutmu
seperti bait puisi di buku harian
di luar angin penghujan melintas
sempat percikkan anak gerimis
biji-biji mimpi mulai berbunga
saat kabut merah dicumbu senja
Cengkareng 14 Juli 2010 - Kedunggalar, 11 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar