Jumat, 22 Juli 2011

PEREMPUAN RINDU

Puisi Hardho Sayoko


Di luar bising ruang tunggu
seekor jatayu baja menukik gagah
berangkat siang merentang sayap di kotamu
usai menelan kejelitaanmu dalam gundah   
ponsel tak pernah petakan lagi rekah senyum
kendati noktah harap selalu terbidik galau
setelah lewati hitungan catatan rembulan
melintas sela reranting cemara bebukitan

Angin bersalam hingga pintu toilet
memandu gerak jarum jam tembok  
menguliti kegelisahan berkecamuk kelu
seperti gemetar  jemari tangan
dalam genggam mesra seorang penyajak
di layar laptop cursor berterjemah
tentang bias warna di lengkung bianglala

Di ruang tunggu jeda detak sepatu
setelah terurai  biji rindu dari bingkai
indahnya gerai anak-anak rambutmu  
seperti bait puisi di buku harian
di luar angin penghujan melintas
sempat percikkan anak gerimis
biji-biji mimpi mulai berbunga
saat kabut merah dicumbu senja

Cengkareng 14 Juli 2010 - Kedunggalar, 11 September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar