Puisi Hardho Sayoko
Selalu jadi ilham sajak sejak mereka lahir dari rahim ibundanya
meski saat kecil membuat ayahnya sangat cemas jika tiba-tiba demam
dan menggendongnya ke klinik tempat praktik dokter spesialis anak
ternyata meriang dan rewel semalaman tak masalah setelah dewasa
pilek dan vaksinasi membuat anak kecil kehilangan selera makannya
gusi sakit karena tumbuh geraham dan saat bertambah kepandaian
pada pertumbuhannya nyaris menguras upah dari hasil bekerja
dan rela sisihkan jatah rokok untuk mainan tidak pernah tahan lama
entah bosan atau rusak setelah dipakai rebutan dengan anak tetangga
; menjadi orang nomor satu di republik ini setiap ditanya apa cita-citanya
menolak jadi menteri karena bisa diganti jika presidennya sudah tak suka
Ayah ingat senyumnya rekah saat pertama kali masuk sekolah
seragam putih merah bekas disetrika pundaknya tergantung tas
berisi buku-buku bersampul dengan kertas bergambar bunga
menolak ditemani ibunya setelah seminggu belajar penuh gairah
setiap pulang dengan riang selalu menceritakan teman-temannya
selain banyak diantar mobil bagus juga ada dibonceng motor tua
periang, tengil, juga banyak suka menangis tanpa tahu penyebabnya
juga ada temannya lelaki selalu minta dibelikan jajan dengan memaksa
sebelum menunjukkan angka-angka istimewa setiap ulangan
dalam setiap pelajaran kadang membuat iri teman sekelasnya
Sejuta ilham sajak kini telah menjadi jelmaaan bidadari surga
ayahnya memeras keringat saat mulai menjadi sekuntum bunga
sering mengajak dialog dengan bintang berpendar di cakrawala
dan menumpahkan rahasia; tentang cinta pertama, juga gelisahnya hati
saat memahami masa depan ternyata tidak seperti pada alur novel remaja
penuh gemerlap kehidupan seperti tayangan sinetron di layar kaca
kini satu persatu pergi meninggalkan tempat mereka lewati masa kecilnya
setelah menamatkan sekolah sebelum tercatat sebagai mahasiswa
di perguruan tinggi milik negara padahal orangtuanya setia membayar pajak
tapi tidak pernah membebaskan anak-anaknya belajar cuma-cuma
meski otaknya seperti cahaya matahari dan tekadnya sekeras baja
karena negeri ini lebih memilih calon pemimpin berotak bebal
asal mampu menyumbang biaya pendidikan sampai menjadi sarjana
tak peduli jika jadi pemimpin bermental pelayan di hadapan orang asing
namun pada bangsanya sendiri bertingkah laku seperti seorang raja
Kedunggalar,1 Maret 2008-16 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar