Puisi Hardho Sayoko
Kendati hampir semua untai merjan habis mereka rebut
namun bumi dan langit tetap menyoja pada jenjang lehermu
tak peduli mereka meniru bukit dan telaga teramat indah
juga mahkota bersurai serat bianglala usai gerimis
rantai pelingkar dan pelanjut kehidupan pun bakal terputus
jika engkau tak mengepakkan sepasang sayap di langit cinta
Engkau bait-bait puisi saat mereka jadi desah kata
engkau menjelma ombak ketika lautan luas tercipta
tak peduli burung camar percikkan desah rindu
memasung rembulan di antara gugus mega
sejatinya engkau adalah pendar kejora di cakrawala
Jika telunjukmu saat menari diiringi gendang memercik darah
runduk langkah segala penjuru bakal bermandi anyirnya nanah
maka jangan lupa sematkan kuntum melati di daun telinga
biar mereka terwarisi aroma duli dari sepasang telapak kakimu
biar tertepis segala balau tak jeda mengintai lewat gemerlap alpa
bila mengikuti bias menara saat ngembara usai lepas buaianmu
Kedunggalar, 23 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar