Puisi Hardho Sayoko
Kegelisahan tak beda elusan angin
jika dimaknai di luar bingkai perasaan
kerling pucuk cemara di punggung bukit
jika tanpa desau tepekur mendekap senyap
kemarau tak pernah menyerah pada rintik hujan
hanya istirah sampai anak gerimis pulang ke sarang
meski lidah mentari tak lelah merayap diam-diam
Sepasang kejora di raut wajahmu
teduhkan bening riak permukaan telaga
burung rawa tak pernah lupa catatan musim
senyum tersungging terberai berlaksa galau
karena cinta dari detakmu mereka tumbuh
bagai ganggang bersemi meniti kembaraan
Di busur langit rembulan berlayar sepanjang malam
kepak lelawa gemerisik di antara jurai dahan-dahan
sejak kisah mulai berawal betapa indahnya bumi
di genggam tangan ibunda payung mengembang
tertepis segala intai mara hingga batas putaran zaman
bahtera senantiasa melaju beserta bentara bayang
terwakili kehadiran pemilik jentera kehidupan
Kedunggalar, 24 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar