Puisi Hardho Sayoko
Perempuan di bawah payung gerimis kelu memantulkan suara
jalanan tengah hutan jati memeta kepedihan jelang senja
siapa nanti taburkan rindu jika puisi telah diseteru luka
jejak demi jejak meninggalkan lirih desah tanpa makna
berlalu waktu sepotong harap teranyam di rahang mega
bayang meski tak bersapa lewat mentari esok bakal merunduk juga
walau keabadian bukan senyap seperti dongeng zaman purba
atau segumpal asap ketika bumi dan langit masih menjadi rahasia
kembaraan bakal jadi kisah meski tajuk dan alurnya masih jadi gatra
Tak jabat gapai temaram senja masih merenda angka demi angka
kapan tiba di penghujung bukankah sesaat lagi halimun terpeta
ingin pulang tapi sudah tak ingat di mana tersimpan kuncinya
mengapa huruf dan kata menyapu warna punggung bianglala
ketika cumbu dan cinta entah siapa lagi jadi penjeratnya
Kedunggalar, 27 Januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar