Puisi Hardho Sayoko
Rimbun batang ilusi juraikan sulur harap
di antara sela susunan mozaik serba gemerlap
gapai bayang usai lidah matahari menjilat kabut
mumpung dinding hati penuh jejal keping mimpi
di antara bisik gerimis serenada bersipongang
rindu dan cinta memulas lembah musim semi
; burung kolibri tak pernah lupa jalan pulang
Jika langit tak berbatas lapisan awan
mengapa gamang mengurai teka-teki
kelu sesungguhnya batu merjan di luar etalase
senyum dan airmata tak ubahnya merk parfum
harus mengepal jika enggan jadi pecundang
Tak layu mawar sebelum dipetik
daun-daun menyergap kehidupan
petik dawai wahai perempuanku
jangan ragu menunggang bianglala
jika kabut hanya lintasan jentera waktu
lembah tak pernah peduli musim gugur
; di ujung musim selalu lahir kehijauan
Kedunggalar 30 Agustus 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar