Puisi Hardho Sayoko
Wajahnya rembulan penuh cahaya
di padang ilalang tepi deretan jati hutan tropika
antara lintas angin di sela rimbun dedaun cemara
dengung kumbang dari celah tebing kejauhan
bersaksi sepertiga malam tiap bayang cengkerama
Jika hadir kilau selalu tak berhenti mengembara
hingga jauh di luar gerbang kota kelahirannya
tak pernah kembali jika tanpa sipongang nada
desah mazmur merayap dinding cakrawala
Cahaya lampu jalanan menjuntaikan
kerinduan di reranting pohon cemara
tak lelah menjelma kembang sayap lelawa
saat rembulan dan anak-anak puisi bersekutu
membius sepi tanpa sempat lambaikan salam
Tutong, 16 July 2010-Kedunggalar 27 November 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar