Puisi Hardho Sayoko
Di negeri yang telah sakit beribu abad ini
tak ada lagi noktah bianglala terpeta di cakrawala
setelah dalam bebagai pertaruhan yang curang
para pembual yang selalu memenangkannya
Kucing bisa jadi tikus dan kadal dikatakan biawak
tak ada yang bisa merubah tulisan di atas meja
karena jumlah pemabuk lebih banyak
dengan para penentang yang tidak seberapa
Di negeri yang dahulu konon serpihan surga
tak ada lagi yang mau berdefile membawa sangkakala
setelah bunyi seruling lebih nyaring suaranya
di mulut para penjilat yang telah memotong lidahnya
Kambing ditulis unta meski nyata beda ujudnya
tak ada yang berani mengatakan singa bukan serigala
sebelum berkasak kusuk dengan lawan-lawannya
meski harus bersungut setiap terinjak usai pesta
Kedunggalar, 17 November 2009
Catatan perenungan ini pernah dibacakan di hadapan para penikmat puisi, ketika menghadiri undangan berbagai komunitas sastra di berbagai kota di daratan tanah Jawa dan saat menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara 4 di Brunei Darussalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar