Puisi Hardho Sayoko
Negeri dari gumpalan lempung di celah-celah tebing surga
katanya jejak senyum meski nyatanya getir di penghujungnya
karena peraupnya tak pernah mensyukuri aneka nikmatNya
lupa betapa anugerah jadi azab jika tak adil ketika membaginya
menguras hingga kerontang tak berfikir semua ada batas akhirnya
tiap ganti musim para pembual obral kecap memperebutkan cek kosong
dinikmati tanpa malu-malu meski banyak janji pembius dilupakannya
tiap angin menyapa gerbang tergesa mengganti senyum dengan airmata
; karena cinta penguasa langit menegur dengan berbagai bencana
Jika maling spion mobil menutupi wajah selamat dari keberingasan
justru garong trilyunan membetulkan dasi saat mejeng di layar kaca
jika para pengutil harus berbulan-bulan mendekap di lapas
para koruptor malah pesiar ke Las Vegas mempertaruhkan koinnya
karena tegaknya aturan tak pernah berpihak kepada kaum dhuafa
maka ayat dan fasal kapan saja bisa diplintir sambil bermain mata
jika ingin jadi kacung sampai pengambil keputusan ada pelumasnya
tapi herannya walau sudah bukan rahasia tapi dianggap tak pernah ada
baru dikorek jika sudah tak berkuasa atau telah dberitakan masuk surga
Hutan lebat dan lautan luas hanya dimiliki namanya di peta
tak peduli bumi dikuras orang asing dan semua hanya menontonnya
bocah-bocah kecil kian akrab dengan indahnya mimpi bukan miliknya
tak peduli orangtuanya resah karena belum tahu besuk makan apa
sementara para petinggi berbagi tender dengan kroni-kroninya
untuk uang saku anak-anaknya selama berlibur di luar negeri
meniru para wakil rakyat study banding sambil berbelanja
para pembayar pajak bersungut membiayai perjalanannya
; karena mabuk tak peduli ada algojo dijagokan jadi anak dewa
Trowulan, 24 Oktober 2010-Kedunggalar , 26 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar