Puisi Hardho Sayoko
Dahulu ketika masih dari kayu
sering kami berlari-lari bertelanjang dada
sebelum berenang di kedalaman lubuk Dung Pawon
yang dasarnya hamparan pasir beringsut ke muara
setiap kemarau menjadi tempat kami bercanda
setelah lelah bermain di pesawahan usai panen
Jembatan kayu penyatu dua tepian
telah menjelma jadi jembatan batu perkasa
tempat kerabat kami lalu lalang
tanpa harus seberangi derasnya air
musim hujan sering datangkan bencana
Dahulu kami selalu berlari-lari bertelanjang dada
sebelum melompat ke lubuk yang kini tak tahu di mana
bukan pasir terbawa dari serpihan batu di gunung
kini dasarnya tergenang lumpur dari ladang di hutan-hutan
hanyut setelah akar sisa pepohonan tak mencengkeramnya
Kedunggalar, 28 Nopember 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar