Puisi Hardho Sayoko
Dahulu lewat susunan kata nafas malaikat bersulam di dalamnya
lewat cahaya segala amuk segala deru bakal takluk tanpa daya
tanahku warisan leluhur yang mengusung firdaus dari serpihan surga
tempat anak cucu memelihara bumi dengan santun dan penuh cinta
segala yang tertabur bakal subur segala yang terbentang bakal benderang
tak gempa, tak tsunami, tak luap lumpur, tak bencana
tak dengki, tak curiga, tak menabur dendam lewat kata
Para leluhur dengan mantra yang tersimpan di urat lontar
melanglang jagat memindah badai dan menghalau amuk hujan
menolak segala mara bencana perusak bumi dengan izin Nya
adalah pemegang amanah pemilik Kun yang maha segala maha
kendati anak cucu hingga cicit tak semua bersedia ikuti jejaknya
karena menjelma jadi kadal setelah terpedaya warna bianglala
hingga di luar kemauan mandah jadi pecundang karena kebebalannya
Lewat asap setanggi konon pesona dan berahi teraih dengan mudahnya
lewat gerak bibir dendam terlampias meski di seberang berbaris keranda
tanahku yang kata leluhur serpihan surga sering tersapa jemari gempa
apakah karena sebagai cicit hanya terwarisi sisa angannya di cakrawala
hingga menjadi petakluk di hadapan para penjudi dan pemabuk yang jumawa
setelah yang kehilangan urat malu didaulat menjadi pemegang sangkakala
yang dengan licik berhasil memenangkan pertaruhan penuh tipu daya
maka pemilik jagat kadang menggamit untuk mengingatkan yang terlupa
Kedunggalar, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar