Puisi Hardho Sayoko
Mentari dhuha berdzikir di antara reranting pohon manga
bunganya sebagian luruh sebelum terhidang di pinggan
biarkan anak-anak kabut merunduk di sela barisan pohon jati
jangan gamit jemari bayang kemboja di pelataran rumah
di sela cericit burung gereja dan dekur merpati di bubungan
bersama angin bukit mereka ingin menari hingga petang
Bila rekah bibirmu tak meniup serunai dari batang padi
kerumun pipit dari lembah menebar gairah hangatnya salam
merdunya kidung dari dangau tentang perjalanan bidadari
meniti dinding bianglala seraya menebar aroma setanggi
terngiang walau sayapnya ranggas tersangkut jentera usia
Jangan pernah mengurai sembabnya jalinan kelu di bingkai sepi
sebab kegelisahan tak ubahnya noktah awan di dinding cakrawala
tak pernah abadi seperti kelam dan terang di catatan lembar cuaca
jika angin tuarang memagut bakal pudar sebelum menghalaunya
mengapa engkau tak pernah memahami berlaksa isyarat dari langit
bila sajak adalah aliran sungai ketika jemarimu menjelma sampan
Kedunggalar, 19 Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar