Puisi Hardho Sayoko
Kutelisik sisa kenang yang telah aus direncah waktu
di antara serak kerikil menimbun bantalan rel kereta api
menanti sapa cemara yang menari bersama kesiur angin
mengibas kerinduan yang lelah disenggamai berahi kelu
tempat biji-biji sajak semi dalam balutan sisa desahmu
Kutelisik sisa kenang yang telah aus direncah waktu
di antara serak kerikil menimbun bantalan rel kereta api
menanti sapa cemara yang menari bersama kesiur angin
mengibas kerinduan yang lelah disenggamai berahi kelu
tempat biji-biji sajak semi dalam balutan sisa desahmu
Kendati cericit burung-burung gereja tak sehingar masa bocah
dan suara mesin pencatat tiket di loket tak pernah lagi bergema
tapi aku masih senantiasa penjemput yang setia di ruang tunggu
; Kau seraut wajah dari balik jendela yang taburkan perihnya harap
di lembar kalender yang angkanya terlingkari susunan namamu
Kutelisik sisa kenang yang telah pudar terkulum waktu
di antara serak kerikil yang tertindih bantalan baja bisu
setiap angin bukit menyalami deretan pepohonan yang kelu
rindu selalu terjumput bersama biji-biji sajak dari bayangmu
ketika kusendiri merentang sepi dan terus saja menunggu
Kedunggalar, 6 April 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar